Pada suatu pagi di sebuah sekolah menengah di Jakarta, guru Bahasa Indonesia memulai pelajaran dengan sebuah pertanyaan sederhana: “Siapa yang sempat membaca berita pagi ini?” Hampir semua tangan terangkat. Tetapi ketika sang guru menanyakan apakah berita itu terverifikasi, hanya beberapa siswa yang masih mengacungkan tangan.
Fenomena kecil itu menggambarkan kenyataan besar bahwa generasi muda hari ini dikelilingi informasi tanpa batas, namun belum semuanya siap mengelola arus informasi tersebut dengan bijaksana.
Generasi muda sering dijuluki digital natives, karena tumbuh dan besar bersama gawai, internet, dan media sosial. Mereka cekatan menggunakan aplikasi, membuat konten, maupun berinteraksi di berbagai platform. Namun kemampuan teknis tidak selalu sejalan dengan kemampuan literasi digital.
Literasi digital bukan sekadar bisa menggunakan perangkat, tetapi kemampuan untuk menyaring dan mengevaluasi kebenaran informasi, memahami risiko keamanan siber, berperilaku etis dan bertanggung jawab di ruang digital, menggunakan teknologi untuk belajar, berkarya, dan berinovasi.
Ironisnya, kecepatan generasi muda beradaptasi dengan dunia digital sering kali lebih tinggi dibanding kemampuan mereka memahami dampaknya.
Fondasi Kehidupan Bangsa
Dalam era transformasi digital saat ini, literasi digital bukan lagi sebagai pelengkap, tetapi telah menjadi fondasi kehidupan sehari-hari, bahkan menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hal itu disampaikan Nursodik Gunarjo selaku Direktur Informasi Publik Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) saat membuka kegiatan "IGID Goes to Campus: Generasi Muda, Literasi Digital, dan Masa Depan Indonesia" di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (12/11/2025).
Ia menambahkan, transformasi digital di Indonesia tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur dan kebijakan, tetapi juga pada integritas, nalar kritis, serta kesadaran digital generasi muda.
Direktur Nursodik pun menyoroti pentingnya membangun masa depan digital Indonesia secara menyeluruh. “Ruang digital kini telah menjadi bagian dari hidup kita. Bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan tempat untuk belajar, bekerja, hingga mencari makna,” ujarnya.
Menurutnya, batas antara realitas fisik dan dunia digital semakin kabur. “Kini kita sudah sulit membedakan apakah berada di dunia virtual atau nyata. Hidup kita sudah menjadi bagian dari dunia digital itu sendiri,” ungkapnya.
Meski akses digital semakin luas, hal itu belum menjamin kecakapan digital masyarakat. Banyak yang sudah memiliki keterampilan teknis (digital skills), namun masih lemah dalam aspek keamanan digital (digital safety), budaya digital (digital culture), dan etika penggunaan teknologi.
“Anak usia empat tahun pun sudah mahir menggunakan gawai. Tapi kecakapan digital tidak berhenti pada kemampuan teknis. Kita perlu literasi digital yang utuh agar mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas untuk kehidupan yang lebih baik,” katanya.
Ia juga menyoroti berbagai tantangan di ruang digital, seperti disinformasi, ujaran kebencian, penyalahgunaan data, dan kecanduan digital, yang justru dapat menggerus produktivitas dan nilai-nilai sosial.
Direktur Nursodik menuturkan, Kementerian Komdigi mendorong generasi muda untuk lebih bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi digital. Tidak hanya mahir menggunakan gawai, masyarakat diharapkan mampu memahami makna setiap interaksi digital, membaca informasi dengan cermat, serta bertindak secara etis di ruang maya.
“Bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat, tapi bagaimana kita memilih makna, membaca notifikasi, dan bertindak dengan tanggung jawab melalui perangkat digital,” ujar Nursodik.
Melalui portal indonesia.go.id (IGID), Kemkomdigi berupaya menghadirkan ruang informasi yang kredibel, terverifikasi, dan mencerahkan masyarakat. Portal tersebut tidak hanya berfungsi sebagai kanal berita, tetapi juga menjadi bagian dari proyek kebudayaan digital yang menampilkan wajah Indonesia di mata dunia.
Namun demikian, menurutnya, keberadaan kanal informasi saja tidak cukup. Ruang digital perlu dihidupkan oleh konten yang positif, kreatif, dan berdaya guna. “Kejahatan muncul bukan hanya karena banyaknya orang jahat, tetapi karena orang-orang baik diam saja. Maka dari itu, kita semua harus aktif berkontribusi,” katanya.
Ia mengajak mahasiswa dan generasi muda untuk menjadi bagian dari perubahan positif di dunia digital. Program “Indonesia.go.id Goes to Campus” diinisiasi untuk mendorong lahirnya ide-ide terbaik dari kalangan kampus.
“Kami percaya, ide-ide kreatif yang bermanfaat bagi masyarakat justru lahir dari kampus. Dari tangan generasi muda, kita bisa menghadirkan konten-konten digital yang membangun dan menginspirasi,” tegas Nursodik Gunarjo.
Kemkomdigi juga mengajak generasi muda untuk tidak hanya piawai menggunakan teknologi, tetapi juga bertanggung jawab dan bijak dalam memanfaatkannya. Literasi digital, saat ini, bukan sekadar soal kemampuan mengoperasikan gawai, melainkan juga tentang memahami makna, menyaring informasi, dan bertindak secara etis di ruang maya.
“Bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat, tapi bagaimana kita memilih makna, membaca notifikasi, dan bertindak dengan tanggung jawab melalui perangkat digital,” ujar Nursodik Gunarjo di hadapan para mahasiswa.
Dunia Digital: Peluang Besar, Risiko Besar
Internet membuka banyak pintu peluang—akses pendidikan yang lebih mudah, peluang bisnis kreatif, hingga jejaring global yang luas. Namun bersamaan dengan itu, hadir pula tantangan serius.
Banyak kasus menunjukkan bagaimana kurangnya literasi digital dapat menjerumuskan anak muda dalam: Misinformasi dan disinformasi; Perundungan siber; Pencurian data pribadi; Jejak digital negatif yang dapat berpengaruh pada masa depan pendidikan ataupun karier.
Contohnya, video hoaks yang beredar di media sosial dapat memicu kepanikan atau konflik. Atau unggahan impulsif di masa remaja bisa muncul kembali bertahun-tahun kemudian ketika seseorang sedang melamar pekerjaan.
Di tengah derasnya arus informasi, generasi muda membutuhkan kemampuan untuk berhenti sejenak, memeriksa, dan menganalisis sebelum percaya atau membagikan sesuatu.
Wakil Rektor Universitas Muhammdiyah Yogyakarta (UMY) Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag. mengatakan pihaknya terus berupaya membangun kesadaran etika di ruang digital dan mengingatkan mahasiswa untuk lebih berhati-hati dan bijak dalam menggunakan media sosial.
“Teman-teman mahasiswa, jagalah jarimu. Gunakan jari-jari Anda untuk hal-hal yang bijaksana di media sosial,” kata Zuly dalam sambutannya pada kegiatan "IGID Goes to Campus: Generasi Muda, Literasi Digital, dan Masa Depan Indonesia" di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (12/11/2025).
Ia menekankan, penggunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab dapat berakibat serius bagi masa depan seseorang. Banyak lulusan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi gagal mendapatkan pekerjaan bukan karena kurang cerdas, melainkan karena rekam jejak digital mereka yang menunjukkan perilaku tidak etis.
“IPK bisa 4,0 atau 3,9, tapi kalau komentar atau unggahan Anda bertentangan dengan norma publik, itu bisa menjadi bumerang,” katanya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kecakapan digital tidak hanya soal kemampuan teknologi, tetapi juga kesadaran moral dan tanggung jawab sosial di dunia maya.
Peran Literasi Digital dalam Membentuk Karakter Generasi Mendatang
Di era ketika hampir seluruh aspek kehidupan terhubung dengan dunia digital, kemampuan untuk memahami, menilai, dan berperilaku secara etis di ruang siber menjadi kebutuhan yang tak terelakkan.
Hal itu dikemukakan Akademisi Universitas Muhammdiyah Yogyakarta (UMY) Prof. Dr. Adhianty Nurjanah dalam kegiatan "IGID Goes to Campus: Generasi Muda, Literasi Digital, dan Masa Depan Indonesia" di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (12/11/2025). Kegiatan tersebut difasilitasi oleh Ditjen Komunikasi Publik dan Media, Kementerian Komunikasi dan Digital RI (Kemkomdigi).
Dalam paparan bertajuk “Generasi Muda: Melek Digital dan Beretika untuk Indonesia Emas”, Prof. Adhianty menyoroti peran krusial generasi muda dalam membangun masa depan digital Indonesia.
Prof. Adhianty Nurjanah menyampaikan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 221,5 juta orang, atau sekitar 79,3 persen dari total populasi. "Angka ini menandai bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia kini hidup dalam ekosistem digital. Namun, di balik capaian tersebut, terdapat tantangan besar yang masih perlu diatasi," ujarnya.
Dari total pengguna internet itu, lanjutnya, 68 persen di antaranya berusia 15 hingga 34 tahun, menjadikan kelompok muda sebagai pengguna paling aktif, terutama di media sosial. Generasi ini tumbuh dalam lingkungan yang sepenuhnya terhubung — di mana belajar, bekerja, bahkan bersosialisasi berlangsung melalui layar.
Namun, pesatnya pertumbuhan pengguna internet tidak serta-merta mencerminkan kedewasaan digital. Indeks literasi digital Indonesia pada 2022 hanya mencapai skor 3,54. Angka ini menandakan bahwa kemampuan masyarakat, terutama generasi muda, dalam memahami dan memanfaatkan teknologi secara cerdas dan etis masih perlu ditingkatkan.
“Tingginya akses internet belum diiringi literasi digital yang kuat. Ini menjadi tantangan besar, karena kemudahan akses tanpa kesadaran bisa membawa dampak negatif,” ujar Prof. Adhianty.
Ia menuturkan, rendahnya literasi digital dapat membawa sejumlah risiko serius bagi generasi muda. Mereka berpotensi menjadi korban hoaks, penipuan daring, atau bahkan kehilangan reputasi digital akibat unggahan yang tidak etis.
Tak hanya itu, lanjut Prof. Adhianty, lemahnya kesadaran digital juga dapat menghambat daya saing generasi muda di pasar kerja global, yang kini menuntut keahlian digital sekaligus integritas dalam penggunaannya.
Selain itu, penyebaran informasi palsu dan ujaran kebencian di media sosial kian mengikis kepercayaan publik terhadap media digital. Kondisi ini bisa berujung pada disinformasi massal yang berbahaya bagi kohesi sosial dan kualitas demokrasi.
Untuk itu, dalam paparan tersebut disampaikan beberapa rekomendasi strategis yang dapat menjadi panduan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan:
Pertama, perluas akses digital yang merata di seluruh wilayah Indonesia agar tidak ada kesenjangan literasi antara perkotaan dan pedesaan.
Kedua, bangun kolaborasi aktif dengan perguruan tinggi untuk memperkuat literasi digital berbasis riset dan pengabdian masyarakat.
Ketiga, integrasikan etika digital dalam kurikulum pendidikan, khususnya pada bidang komunikasi, teknologi informasi, dan ilmu sosial.
Kelima, memperkuat program literasi digital nasional berbasis kampus. "Seperti kegiatan hari ini, guna menumbuhkan budaya digital yang sehat di lingkungan akademik," imbuh Prof. Adhianty Nurjanah.
Lebih lanjut, Prof. Adhianty mengatakan, melalui langkah-langkah ini, diharapkan literasi digital tidak hanya berhenti pada kemampuan teknis, tetapi juga menyentuh aspek nilai, etika, dan tanggung jawab sosial. “Generasi muda adalah penentu arah masa depan digital Indonesia. Dengan melek digital dan beretika, mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pembentuk peradaban digital yang berintegritas,” pungkasnya.
Pentingnya literasi digital menjadi semakin relevan dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, ketika bangsa ini ditargetkan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia berbasis inovasi dan teknologi. Masa depan itu, menurut para ahli, hanya dapat dicapai jika generasi mudanya mampu menjadi pengguna cerdas, produsen konten positif, dan pelaku aktif dalam ekosistem digital yang sehat.
Dengan dukungan kebijakan yang berpihak pada pendidikan digital dan partisipasi aktif dari kampus, masyarakat, dan dunia industri, visi Indonesia Emas 2045 bukanlah mimpi, melainkan arah nyata menuju bangsa yang cakap digital, beretika, dan berdaya saing global.
Bekal Penting
Literasi digital kini telah menjadi bagian dari kecakapan abad ke-21. Lebih dari sekadar keterampilan tambahan, ini adalah bekal penting untuk bertahan di dunia yang sepenuhnya terkoneksi.
Beberapa aspek yang wajib dimiliki generasi muda antara lain: Pertama,Critical Thinking; Kemampuan berpikir kritis menjadi kunci memilah fakta dari opini, serta memahami konteks di balik setiap informasi.
Kedua, Keamanan dan Privasi Digital; Mengelola kata sandi, mengenal phishing, hingga bijak membagikan informasi pribadi.
Ketiga, Etika Bermedia Digital; Menyadari bahwa ruang digital adalah ruang publik, dan setiap kata atau tindakan dapat berdampak pada orang lain.
Keempat, Kreativitas dan Produktivitas Digital; Memanfaatkan teknologi bukan hanya untuk konsumsi, tetapi juga untuk produksi: membuat konten edukatif, membangun portofolio, hingga menciptakan solusi inovatif.
Meningkatkan literasi digital generasi muda tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada mereka. Orang tua, guru, akademisi dan lingkungan sosial memegang peran kunci.
Sekolah dapat memasukkan literasi digital dalam kurikulum, bukan hanya dalam mata pelajaran TIK, tetapi lintas disiplin. Sementara orang tua perlu menjadi role model dalam penggunaan gawai, serta membangun ruang dialog yang sehat mengenai aktivitas daring anak.
Program pemerintah dan komunitas literasi digital juga dapat menjadi jembatan, menyediakan pelatihan dan pendampingan yang mudah diakses.
Menyiapkan Masa Depan Melalui Literasi Digital
Generasi muda harus bisa dan terus berkarya melalui konten positif yang mencerminkan jati diri dan kreativitas masing-masing. Karenanya, kunci utama dalam membuat konten bukanlah sensasi, melainkan keaslian dan nilai yang ingin disampaikan.
Demikian disampaikan Konsultan Media dan Digital sekaligus Pegiat Media Sosial (Medsos), Rulli Nasrullah, atau yang akrab disapa Kang Arul dalam kegiatan "IGID Goes to Campus: Generasi Muda, Literasi Digital, dan Masa Depan Indonesia" di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (12/11/2025). Kegiatan tersebut difasilitasi oleh Ditjen Komunikasi Publik dan Media, Kementerian Komunikasi dan Digital RI (Kemkomdigi).
Kang Arul pun memberikan sedikit tips agar anak muda bisa menciptakan konten positif dan kreatif. “Kalau hobinya masak, ya buatlah konten memasak. Kalau suka naik gunung, tunjukkan itu dengan pengemasan yang baik,” ujar Kang Arul.
Ia menilai, banyak yang keliru menganggap konten menarik harus bersifat vulgar atau mengandung unsur prank yang kerap merugikan orang lain. Padahal, konten sederhana seperti kegiatan keluarga atau bermain bersama anak justru dapat menarik jutaan penonton.
Karena itu, Rulli Nasrullah enambahkan, konten yang sehat dan beretika memiliki pasar tersendiri. Konten yang tidak menampilkan aurat, tidak marah-marah, atau menyakiti orang lain tetap punya penontonnya sendiri. "Artinya saya ingin mengatakan bahwa, konten-konten yang tidak perlu menunjukkan aurat, tidak perlu prank yang menyakiti orang lain, atau marah-marah dengan segala macam itu, punya penontonnya sendiri. Punya captive market-nya sendiri. Jadi, jangan takut untuk bikin ciri khas orang muda itu, value-nya apa, sampaikan saja dengan gayanya gitu kan. Saya yakin itu akan mendapatkan penonton yang cukup luar biasa juga sih," jelas Kang Arul.
Terkait ciri khas konten anak muda, ia menyebut bahwa generasi milenial, Z, dan Gen Alpha memiliki gaya komunikasi yang khas. “Gunakan bahasa sehari-hari, tunjukkan kehidupan nyata yang dekat dengan audiens. Hal-hal sederhana seperti berangkat sekolah atau ngobrol dengan teman bisa jadi konten menarik,” kata Kang Arul.
Sebagai pegiat media sosial, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem digital yang sehat. “Media sosial itu seperti pisau, tergantung siapa yang menggunakannya. Saya pribadi memilih untuk tidak mengikuti akun yang menyebarkan kebencian atau ujaran politik kasar agar algoritma tetap bersih,” ungkapnya.
Sebagai menutup Rulli Nasrullah berpesan kepada generasi muda agar terus berkreasi secara positif. “Gunakan media sosial bukan untuk pamer atau ikut-ikutan, tapi sebagai wadah untuk berkarya dan bahkan memperoleh penghasilan. Internet bisa menjadi profesi bila dimanfaatkan dengan bijak,” pungkas Kang Arul.
Dunia masa depan adalah dunia digital: pekerjaan, pendidikan, interaksi sosial, bahkan kebutuhan sehari-hari akan banyak berpusat pada teknologi. Ketika generasi muda dibekali literasi digital yang kuat, mereka bukan hanya pengguna teknologi, tetapi pembentuk masa depan itu sendiri.
Generasi muda adalah pilar masa depan Indonesia. Dan masa depan itu kini dibangun melalui dua dunia: dunia nyata dan dunia digital. Keduanya menuntut kemampuan yang setara, kecerdasan yang sama dalam menghadapi tantangan, serta kedewasaan dalam mengambil keputusan.
Literasi digital bukan lagi pilihan. Ia telah menjadi prasyarat untuk: Keamanan diri; Kualitas pendidikan; Peluang karier; Kesehatan mental; dan Keberlangsungan demokrasi.
Pada akhirnya, literasi digital adalah fondasi untuk menciptakan generasi yang kritis, kreatif, dan bertanggung jawab. Bukan hanya untuk menjaga diri mereka dari risiko dunia maya, tetapi juga agar mereka dapat memanfaatkan teknologi sebagai alat kemajuan, bukan sekadar hiburan!
Penulis: Ismadi Amrin. Redaktur: Untung S. Berita ini sudah terbit di infopublik.id: https://infopublik.id/kategori/sorot-sosial-budaya/947315/literasi-digital-untuk-indonesia-emas-jadi-penentu-masa-depan-generasi-muda
Sumbe: https://indonesia.go.id/kategori/editorial/10274/literasi-digital-untuk-indonesia-emas-jadi-penentu-masa-depan-generasi-muda?lang=1